Oleh: Sudarma, S.Pd., S.ST., M.T.
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan salah satu program strategis pemerintah dalam menyambut peserta didik baru. Tujuannya jelas, yakni membangun karakter, menanamkan budaya sekolah, memperkenalkan lingkungan belajar yang aman, membentuk kedisiplinan, serta menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila.
Namun yang menjadi perhatian publik, mengapa sebagian pemberitaan mengenai MPLS justru lebih dominan mengangkat persoalan anggaran dibandingkan substansi pendidikan?
Apakah orientasi pemberitaan pendidikan kini mulai bergeser dari keberhasilan pembentukan karakter menjadi sekadar pembahasan mengenai dana?
Pertanyaan tersebut layak menjadi refleksi bersama, baik bagi insan pers maupun seluruh pemangku kepentingan dunia pendidikan.
Hak Publik Bukan Hanya Mengetahui Besarnya Anggaran
Tidak ada yang mempersoalkan fungsi kontrol media terhadap penggunaan anggaran negara. Dana BOS merupakan dana publik sehingga penggunaannya memang harus transparan dan akuntabel.
Namun hak masyarakat sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar mengetahui angka-angka anggaran.
Publik juga berhak memperoleh informasi mengenai:
- apakah MPLS berjalan sesuai ketentuan;
- apakah siswa merasa aman dan nyaman;
- bagaimana sekolah mencegah perundungan;
- bagaimana guru membangun karakter peserta didik;
- inovasi apa yang dilakukan sekolah;
- manfaat nyata yang dirasakan peserta didik baru.
Informasi-informasi tersebut justru memiliki nilai edukatif yang tinggi bagi masyarakat.
Objektivitas Tidak Berarti Hanya Mengkritik
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menegaskan bahwa pers nasional memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, dan lembaga ekonomi.
Artinya, fungsi kontrol hanyalah salah satu dari lima fungsi pers.
Pers juga mempunyai tanggung jawab memberikan pendidikan kepada masyarakat melalui informasi yang utuh, akurat, dan proporsional.
Dalam praktik jurnalistik, kritik terhadap sekolah tentu sah dilakukan. Namun kritik akan lebih berkualitas apabila dilengkapi konteks yang memadai sehingga pembaca memahami persoalan secara menyeluruh.
Kode Etik Jurnalistik Menempatkan Keberimbangan sebagai Prinsip Utama
Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers memberikan pedoman yang sangat jelas.
Pasal 1 mengamanatkan bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Sedangkan Pasal 3 mengatur bahwa wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Prinsip-prinsip tersebut menjadi fondasi agar pemberitaan tidak hanya benar secara fakta, tetapi juga adil dalam penyajiannya.
Karena itu, ketika pemberitaan lebih banyak mengangkat satu sisi persoalan tanpa memberikan ruang yang memadai terhadap konteks maupun capaian program pendidikan, publik berhak bertanya apakah keberimbangan telah terpenuhi.
Pertanyaan tersebut bukanlah tuduhan, melainkan bagian dari evaluasi terhadap kualitas jurnalisme pendidikan.
Mengapa Keberhasilan MPLS Kurang Mendapat Ruang?
Banyak sekolah melaksanakan MPLS dengan berbagai inovasi.
- Guru mengenalkan budaya sekolah.
- Siswa belajar disiplin.
- Dilaksanakan pemeriksaan kesehatan.
- Dibangun budaya anti-perundungan.
- Dilakukan pendidikan karakter.
- Orang tua dilibatkan.
- Lingkungan belajar diperkenalkan.
Semua aktivitas tersebut merupakan bagian penting yang berdampak langsung kepada peserta didik.
Sayangnya, aspek-aspek tersebut sering kali hanya menjadi pelengkap dalam pemberitaan, sementara isu anggaran justru menjadi judul utama.
Apabila pola seperti ini terus berulang, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang tidak lengkap mengenai penyelenggaraan pendidikan.
Keuangan Sekolah Memiliki Sistem Pengawasan
Pengelolaan Dana BOS telah memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang diatur melalui regulasi pemerintah.
Setiap penggunaan anggaran harus dipertanggungjawabkan melalui perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pemeriksaan oleh instansi yang berwenang.
Oleh sebab itu, pemberitaan mengenai anggaran akan lebih memberikan manfaat apabila juga menjelaskan mekanisme tersebut sehingga masyarakat memahami proses akuntabilitas secara utuh.
Jurnalisme Pendidikan Seharusnya Membangun Optimisme
Pendidikan merupakan investasi bangsa.
Media memiliki peran yang sangat besar dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Jurnalisme pendidikan yang berkualitas bukan hanya mengungkap persoalan, tetapi juga mengangkat solusi, inovasi, prestasi, praktik baik, serta dampak positif yang dirasakan peserta didik.
Kritik tetap diperlukan, tetapi apresiasi terhadap keberhasilan juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral media dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Penutup: Saatnya Mengembalikan Fokus Pemberitaan kepada Murid
Pada akhirnya, inti dari MPLS bukanlah besar atau kecilnya anggaran.
Ukuran keberhasilan MPLS adalah bagaimana peserta didik baru merasa diterima, aman, nyaman, berkarakter, disiplin, serta siap mengikuti proses pembelajaran.
Media memiliki hak untuk mengawasi penggunaan anggaran sekolah.
Namun masyarakat juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh informasi mengenai keberhasilan pendidikan yang sedang dibangun.
Jurnalisme yang profesional bukan hanya menghadirkan kritik, tetapi juga menjaga keberimbangan, menghadirkan konteks, dan memastikan bahwa kepentingan utama yang disorot tetaplah peserta didik sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan.Artikel ini dapat dipadukan dengan kutipan Pasal 1 dan Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers sebagai landasan normatif, sekaligus menghindari kesimpulan bahwa media tertentu telah melakukan pelanggaran, kecuali hal tersebut telah diputuskan oleh mekanisme yang berwenang seperti Dewan Pers.
_______________
*) Pemerhati dan praktisi Pendidikan selama lebih 26 tahun saat berita ini ditayangkan sebagai Kepala SMKN 1 Pakisjaya.
Sebagai Hipnoterapis dengan jaringan luas Nasional dan menjadi Nara sumber Pendidikan sejak tahun 2010 sampai saat ini.
Sebagai Trainer NLP dan Instruktur Hipnotis Hipnoterapi serta Asesor dan Master Instruktur BNSP RI
Aktif menulis Buku dan Kolomnis diberbagai media cetak maupun online
