Dalam kegiatan tersebut, Dirjen Dikdasmen Diksus, Tatang Muttaqien menegaskan pentingnya peran kepala sekolah dalam mengawal pelaksanaan bantuan pemerintah agar tepat sasaran, akuntabel, dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi murid SMK.
Menurutnya, kepala sekolah memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak kemajuan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam menyiapkan lulusan SMK yang siap bersaing di dunia kerja maupun dunia industri.
“Bantuan pemerintah sertifikasi kompetensi ini harus benar-benar dikawal dengan baik oleh kepala sekolah agar tetap tepat sasaran dan akuntabel. Yang paling utama adalah bagaimana program ini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan keahlian para murid,” ujar Tatang Muttaqien dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa uji kompetensi atau uji kompetensi keahlian menjadi jembatan penting antara kompetensi siswa dengan kebutuhan dunia industri yang terus berkembang secara cepat dan dinamis.
Program sertifikasi kompetensi tersebut juga menjadi bagian dari revitalisasi pendidikan vokasi nasional yang diarahkan untuk mempercepat penyerapan lulusan SMK ke dunia kerja. Berdasarkan hasil evaluasi program sebelumnya, murid yang mengikuti sertifikasi kompetensi dinilai memiliki masa tunggu kerja lebih cepat sekitar 35 persen dibandingkan lulusan yang tidak mengikuti program sertifikasi.
“Serkom menjadi bagian penting dalam revitalisasi pendidikan vokasi. Program ini terbukti mampu mempercepat masa tunggu kerja lulusan SMK hingga 35 persen dibandingkan mereka yang tidak mengikuti sertifikasi kompetensi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tatang Muttaqien menyampaikan bahwa bantuan sertifikasi kompetensi diharapkan mampu menjadi salah satu pilar utama dalam meningkatkan keterserapan tenaga kerja lulusan SMK di berbagai daerah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sekolah dan siswa, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.
“Ketika kompetensi lulusan meningkat, maka daerah juga akan merasakan dampak kemajuannya. Pendidikan vokasi harus mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional maupun daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mufti dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada sekolah-sekolah yang terpilih menjadi mitra Kemendikdasmen dalam pelaksanaan Program Sertifikasi Kompetensi Tahun 2026.
Ia menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini harus mampu menjawab kebutuhan dunia kerja melalui penguatan konsep “Link and Match” antara sekolah dengan industri.
“Selamat kepada sekolah yang telah terpilih menjadi mitra Kemendikdasmen dalam program sertifikasi kompetensi. Ini merupakan bentuk nyata sinergi dunia pendidikan dengan dunia industri,” ujarnya.
Menurut Abdul Mufti, tantangan dunia kerja saat ini berkembang sangat cepat. Kebutuhan industri mengalami pertumbuhan secara eksponensial, sedangkan pertumbuhan dunia pendidikan cenderung berjalan secara linier. Kondisi tersebut menuntut adanya percepatan transformasi pendidikan agar mampu mengikuti perkembangan zaman.
Ia juga menyoroti perubahan besar dalam struktur pekerjaan akibat perkembangan teknologi dan otomatisasi. Banyak pekerjaan yang sebelumnya mengandalkan tenaga fisik atau otot mulai tergantikan oleh sistem teknologi dan digitalisasi.
“Dunia berubah sangat cepat. Banyak pekerjaan yang melibatkan otot mulai hilang, seperti penjaga gerbang tol yang kini tergantikan teknologi otomatisasi. Karena itu, pendidikan harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dan unggul,” katanya.
Dalam menghadapi tantangan abad ke-21, Abdul Mufti menekankan pentingnya penguatan kemampuan 4C, yakni Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration. Selain itu, peserta didik juga harus memiliki tiga aspek utama, yaitu kualifikasi, kompetensi, dan karakter.
Kemampuan 4C Abad 21 merupakan empat kompetensi utama yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan modern dan dunia kerja saat ini. Konsep ini menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan karena perkembangan teknologi, digitalisasi, dan perubahan industri berlangsung sangat cepat.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mufti menegaskan bahwa lulusan SMK tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus menguasai keterampilan abad ke-21 yang dikenal dengan istilah 4C, yaitu:
1. Critical Thinking (Berpikir Kritis)
Kemampuan berpikir kritis adalah keterampilan untuk menganalisis masalah secara logis, memahami situasi secara mendalam, serta mencari solusi yang tepat dan efektif.
Di dunia kerja modern, pekerja dituntut tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga mampu:
Memecahkan masalah, Mengambil keputusan, Menganalisis data, Beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Sebagai contoh, teknisi otomotif saat ini tidak cukup hanya bisa memperbaiki mesin, tetapi juga harus mampu membaca sistem komputer kendaraan modern dan menganalisis kerusakan secara digital.
2. Creativity (Kreativitas)
Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan ide baru, inovasi, maupun cara kerja yang lebih efektif dan efisien.
Dalam era industri digital, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang:
Inovatif, Adaptif, Mampu menciptakan peluang baru, Berani mengembangkan ide.
Murid SMK yang kreatif akan lebih mudah menciptakan produk, jasa, maupun usaha mandiri sesuai kompetensi keahliannya.
Contohnya:
Siswa multimedia mampu membuat konten digital kreatif,
Siswa tata boga mampu menciptakan produk kuliner inovatif,
Siswa teknik mampu membuat alat sederhana berbasis teknologi.
3. Communication (Komunikasi)
Kemampuan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam dunia kerja. Seseorang yang kompeten tetapi tidak mampu berkomunikasi dengan baik akan mengalami kesulitan bekerja dalam tim maupun melayani pelanggan.
Kemampuan komunikasi mencakup:
Berbicara dengan jelas, Menyampaikan ide, Presentasi, Menulis laporan, Berkomunikasi digital, Etika berinteraksi.
Di dunia industri modern, kemampuan komunikasi juga berkaitan dengan pelayanan, negosiasi, dan profesionalisme kerja.
4. Collaboration (Kolaborasi)
Kolaborasi adalah kemampuan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Dunia industri saat ini sangat mengutamakan kerja tim karena hampir seluruh pekerjaan melibatkan banyak bidang keahlian.
Kemampuan kolaborasi mencakup:
Kerja sama tim, Menghargai pendapat orang lain, Tanggung jawab bersama, Kepemimpinan, Adaptasi dalam lingkungan kerja.
Sebagai contoh, dalam sebuah proyek industri, lulusan teknik, desain, pemasaran, dan administrasi harus mampu bekerja bersama agar target perusahaan tercapai.
Pentingnya 4C dalam Pendidikan SMK
Konsep 4C menjadi sangat relevan bagi pendidikan vokasi dan SMK karena lulusan SMK dipersiapkan untuk langsung masuk ke dunia kerja maupun dunia industri.
Program Sertifikasi Kompetensi (Serkom) yang dilaksanakan Kemendikdasmen tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis siswa, tetapi juga membentuk karakter kerja profesional yang sesuai kebutuhan industri modern.
Kemampuan 4C juga mendukung konsep “Link and Match” antara sekolah dengan dunia kerja sehingga lulusan SMK tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga:
Kompetensi, Karakter, Kemampuan adaptasi, Kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja global.
Dengan penguasaan kemampuan abad 21 tersebut, lulusan SMK diharapkan mampu menjadi generasi yang produktif, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menilai pengalaman dalam dunia pendidikan juga menjadi bagian penting dari “hidden curriculum” atau kurikulum tersembunyi yang membentuk karakter dan kepribadian peserta didik.
“Di dunia kerja saat ini, kecerdasan emosional sering kali lebih menentukan keberhasilan dibandingkan kecerdasan akademis semata. Karena itu pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi,” tegasnya.
Melalui Program Bantuan Pemerintah Sertifikasi Kompetensi Murid SMK Tahun 2026 ini, pemerintah berharap lulusan SMK Indonesia semakin siap menghadapi perubahan dunia kerja global, memiliki kompetensi yang diakui industri, serta mampu menjadi tenaga kerja produktif yang mendukung pembangunan nasional. (WBN)
